Latest Entries »

MEMBACA CINTA KEMALA

Meditasi Dampak 70*

Oleh Handoko F Zainsam

Pembacaan Sesi 02

Manusia lahir dengan membawa banyak sekali rasa dan keindahan. Bahkan tak jarang, manusia mengalami berbagai warna-warni pergolakan perasaan dengan proses yang tentunya beraneka macam pula.

Salah satu bentuk keindahan yang kerap menjadi pencapaian estetik dalam karya adalah perasaan cinta. Cinta memiliki banyak sekali tanggapan atau respon. Hal ini tertu terkait erat dengan wilayah perasaan cinta yang memiliki jangkauan hingga dua kutup yang bertentangan: positive (kerinduan), negative (kebencian), dan pergerakan di antaranya.

Perasaan yang berada di wilayah “antara” yakni keragu-raguan, kegamangan, dan kegelisahan. Perasaan ‘antara’—dalam wilayah tengah antara kebahagiaan dan kesedihan—menjadi dunia tersendiri yang memiliki daya guna untuk memahami dan mendalami perasaan cinta tersebut. Dan, puncak dari rasa ini adalah kegelisahan. Bagimana kegelisahan ini muncul?

Kegelisahan ini memanglah keadaan perasaan yang tak menentu dan penuh syahwak sangka. Banyak sekali pertanyaan dari kegelisahan ini yang terus saja mencari jawaban. Bahkan kadang kala semuanya lepas kendali. Hal ini lantaran kuatnya kegelisahan dan mampu berubah menjadi sesuatu yang irasional. Kegelisan berlebihan inilah yang akhirnya menyorong lahirnya fobia. Tentu ini terkait dengan aspek psikis seseorang yang tak mampu lagi menahan tekanan-tekanan emosi. Memang harus kita akui pada dasarnya kegelisahan yang berujung pada fobia ini berjalan dengan hukum logikanya sendiri. Kondisi psikislah yang mendominasi lahirnya kegelisahan ini. Meskipun begitu pikiran tidak lantas tak memiliki peran.  Bagaimana pula dengan karya sastra?

Sementara terkait dalam hal ciptaan, karya sastra pada hakikatnya adalah sebuah ruang imajinasi dan kreativitas. Sehingga acuan dalam sastra adalah dunia fiksi atau imajinasi. Tak bisa dipungkiri bahwa sastra adalah sebuah tranformasi kenyataan ke dalam teks. Sastra menyajikan dunia dalam kata, yang bukan dunia sesungguhnya, namun sebuah dunia yang ‘mungkin’ ada. Inilah yang menjadi titik tumpu utama pada karya sastra.

Walaupun perdebatan tentang acuan dunia fiksi tak pernah menemukan leraian, seperti perlu disimak pula apa yang di kemukakan oleh Max Eastman tentang hal ini. Kebenaran dalam karya sastra sama dengan kebenaran di luar karya sastra, yaitu pengetahuan sistematis yang dapat dibuktikan.

Sastra sesungguhnya adalah hasil sebuah perenungan, observasi, kenangan, penelitian dan lantas dikomunikasikan imajinasi tersebut dalam sebuah kreativitas menjadi sebuah karya. Wajar jika di dalam sastra lahir sebuah kenyataan baru yang dikonstruksi menjadi kenyataan tersendiri. Bisa berbanding, bisa searah, atau bahkan sinergi dengan kenyataan. Namun tak bisa dipungkiri bahwa sastra adalah sebuah transformasi kenyataan dalam sebuah teks seperti yang telah saya sampaikan di atas. Dan, kenyataan dalam teks tidak serta-merta dijadikan atau diyakini sebagai kenyataan yang tergelar di kehidupan nyata. Masih butuh sarana untuk membedah keterkaitannya. Imajinasi dan kenyataan bersatu padu di dalamnya.

Lantas bagimana “Cinta Kemala” istilah saya dalam memberikan pembacaan terhadap puisi “Meditasi” karya Ahmad Kamal Abdullah ini?

Membaca Cinta Kemala

Saat membaca puisi “Meditasi” dalam antologi puisi “Meditasi Dampak 70”, pikiran saya melayang ke beberapa hal, yang satu diantaranya adalah seputar tulisan William Shakespeare (1564-1616) dalam karyanya A Midsummer Night’s Dream. Ada sebuah statemen yang cukup menarik, yakni: “Sesuatu yang rendah dan tidak mempunyai nilai, dapat berubah menjadi berarti”.

Kenapa tiba-tiba pikiran saya lari ke arah sana, tentu ini terkait dengan keindahan yang memerlukan bentuk untuk dikomunikasikan. Banyak hal yang mampu mempengarui pencapaian estetik. Keadaan sesaat, yang cukup menarik untuk dipahami, rupanya juga mampu menciptakan bentuk-bentuk keindahan. Namun, seperti halnya pemunculannya, sesaat ini apakah akan mampu menjadi abadi atau tidak.

Hal terpenting dalam menyikapi hal ini tentu terkait dengan kegiatan intelektual yaitu merenung dan berpikir. Dari sinilah akan terurai apakah hal tersebut memang sesaat atau benar-benar merupakan sebuah hasil menyarian sesuatu yang besar.

Saya membaca kado puisi ulang tahun “Meditasi Dampak 70” yang diperuntukkan buat Dato Ahmad Kamal Abdullah yang akrab disapa Dato Kemala sungguh mengundang kegelisahan itu. Antologi “Meditasi dampak 70” merupakan kumpulan puisi dari beberapa penyair negara-negara sahabat, termasuk Indonesia salah satunya. Karakter tiap penyair memang cukup menarik. Dan, di sinilah keindahan yang universal mulai terbaca dengan aneka warnanya. Ya, meskipun banyak pula beberapa karya yang secara subyektif, saya pikir dan saya rasa perlu dibaca atau dikaji ulang. Namun, untuk kali ini saya membatasi pembicaraan ini pada Meditasi karya Dato Kemala.

Dalam puisi “Meditasi”, cinta menjadi bahasan yang cukup menarik. Bagimana Dato Kemala membahasakan perasaan cintanya. Bagaimana pula keterkaitan antar personal manusia, alam, dan Tuhan. Selanjutnya, kerangka utama yang dibangun dalam puisi berjudul “Meditasi” ini pun memang sarat/berpedoman pada hasil renung dan telaah pikir atas sejarah panjang perjalanan cinta. Haru-biru perasaan cinta terus bermunculan dalam koridor pemaknaan-pemaknaan yang cukup manusiawi.

Membuka, meneruang detik ini

Kekasih yang hangat

Tertawan oleh masa

Merpati peristiwa

Menggelepar

Menyambut cinta kudus penyair

Bagaimana keterjebakan yang indah di sampaikan secara sederhana. “Kekasih yang hangat, tertawan oleh masa”. Di sinilah sepertinya, penulis berusaha memberikan dan menyampikan perasaannya bahwa semua yang terjadi tidak selalu seperti yang kita harapkan. Namun, bagaimana kita mampu memberikan makna dan ruang pemaknaan menjadi utama. “Merpati peristiwa, menggelepar, menyambut cinta kudus penyair.”

Kenapa merpati? Yang kita pahami sebagi simbol dari cinta kasih. Dan, bagimana pula dengan cinta kudus penyair?

Berbagai kenang menyeruak dalam diri dan perlahan-lahan, satu persatu peristiwa mulai menemukan pemaknaannya. Kesemuanya mengacu pada kekasih yang hangat. Lantas, siapa yang dimaksud kekasih itu?

Ada dua hal yang menjadi acuan, tentu kekasih hati (dalam hal ini manusia) dan Tuhan (bersifat transenden). Dalam baik-baitnya, penulis berusaha memberikan pemaknaan tersendiri atas perjalanan dan perenungannya atas cinta yang ia rasakan. Bahwa tidaklah sederhana mengemban amanah cinta. Menyakitkan, menggelepar dalam menyambut kedatangan cinta kudus penyair.

Ruang ini menantikan sapaan masa

Lewat lalu dewi sejarah

Kotaku terus mencari dirinya

Aku dan kau menenuni puisi demi puisi

Mencari intisari suatu nilai suatu arti

Ini menjadi lebih terbaca apa yang hendak disampaikan. Bahwa apa yang menjadi perenungan sang penulis adalah langkah untuk memahami bagaimana ‘dunia irisan’—istilah saya dalam memaknai penyatuan cinta—itu tercipta. Ya dunia bentukan antara ‘aku’ dan ‘kau’ yang menjadikan kita, itulah dunia irisan.  Aku dan kau menenuni puisi demi puisi. Apa yang dimaksud dengan puisi? Hal inilah yang mengingatkan saya pada statemen William Shakespeare, “keindahan hendaknya menemukan bentuk”. Dan di sini puisi sepertinya menjadi bentuk penyampai keindahan perasaan ini. Puisi menjadi sarana komunikasinya. Lantas bagaimana dengan daya renung dan pikirnya? pada puisi selanjutnya Dato Kemala menuliskan;

Suatu bunyi suatu lengking kecil

Bangun menyapa:

Renung diri!

Suatu bisik suatu risik nyaman

Mendepani hening sepi

Meditasi!

Nah, meditasi menjadi kunci pembuka penyatuan antara pikira dan rasa. Sebuah pengalaman spiritual yang memiliki arti pada sebuah proses dalam memunguti atau melahirkan sebuah makna atas peristiwa perasaan dan kehidupan. Di sini sepertinya tujuan utama dari penulis. Meditasi. Mendepani hening sepi. Suatu bisik suatu risik nyaman. Renung diri!

Hal yang memang menjadi kendala dalam puisi ini adalah kemunculan hening sepi. Namun, justru inilah memang menjadi pilihan dari sang penulis untuk mengomunikasikan perasaannya. Hening dan sepi yang memiliki kemiripan dan nyaris sama menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya. Kemunculan sepi bisa ditafsirkan sebagai penyangatan dari hening, namun juga bisa menjadi kesia-siaan kata.

Meditasi bermula dari cinta

Meditasi berakhir dengan cinta, mesra

Sebuah ikrar kesungguhan telah akan mencari kenyataannya. Mediatas bermula dari cinta dan berakhir dengan cinta. Inilah yang saya maksud kesederhanaan dan olah rasa dan pikir yang menghasilkan sebuah pengalaman spiriual yang cukup menawan.

Sebagai akhir bacaan, saya teringat sebuah renungan dari Mangunwijaya, religiusitas lebih melihat aspek yang “di dalam lubuk hati”, riak getaran nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena nafas dan intimitas jiwa, “decoeur” dalam arti pascal yakni cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) ke dalaman pribadi manusia.

Akhir kata,

Meditasi

Lalu diakhirnya menjadi lengkap ia

Dengan catatan yang kuasuh

Dengan jiwa

Tulus kudus

Pengenalan

Penemuan

Perngertian

Cinta

Jakarta, 24 Maret 2011

Salam hangat

Handoko F Zainsam

* Disampaikan dalam bedah karya, “Meditasi Dampak 70” karya Ahmad Kamal Abdullah pada Hari/Tanggal: Sabtu, 26 Maret 2011 di Pusat Dokumentasi HB Yassin (PDS HB Yassin), Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kritik Handoko F Zainsam atas novel “Elang” karya Kirana Kejora yang dimuat di http://www.kompas.com

“ELANG”: POTRET BURAM INDONESIA TIMUR

Oleh Handoko F. Zainsam

 

Tak banyak mengalami kesusahan. Itulah yang pertama kali terbersit dalam pikiran saya saat membaca Novel “Elang” karya Kirana-Kejora. Begitu mengalir, lancar, dan tak tersendat kisahnya. Sepertinya saya dihadapkan kepada seorang penulis sangat piawai dalam merangkai kisah, memainkan alur, dan menyodorkan “robekan” nilai-nilai kemanusiaan.

Saya jadi teringat almarhum begawan penulisan secara populer, Ismail Marahimin. Dalam pengajarannya, ia selalu bilang, “Menulis itu mudah dan menulis itu indah”. Dalam Novel “Elang” ini, nampak sosok Kirana Kejora begitu mudah menyampikan kisah. Ia menampilkan eksistensi dirinya sebagai sosok penutur yang manis dan pencerita yang kuat.

Saat ia memulai kisah dengan perburuan Elang Timur di Hutan Timika, Papua, saya merasa diajak melihat sebuah film petualangan yang cukup seru. Kalimat-kalimatnya begitu tangkas. Sepertinya tak ada permasalahan yang serius bagi penulis untuk merangkai kisah hinga pada tahap akhir ketika Elang Laut melihat dari kejauhan keluarga bahagia dari saudara kembarnya, Elang Timur, Kejora, dan anak biologisnya, Kemilau Rinjani.

Membaca “Elang” di Ranah Pembangunan Kisah Dalam membangun sebuah cerita ada beberapa unsur yang harus dipahami secara cermat. Unsur-unsur tersebut yakni tokoh dan penokohan, cerita dan plot (alur cerita), setting (latar cerita), sudut pandang (point of view), bahasa, dan tema (makna cerita/pesan cerita). Unsur-unsur tersebut merupakan satu-kesatuan yang saling mengikat diri dan sinergi. Antar unsur satu dengan unsur lain saling terlibat pada hubungan sabab akibat.

Dalam menentukan tokoh dan penokohan banyak cara yang bisa ditempuh, salah satu diantaranya dengan mendiskripsikan, menggambarkan, dan menjelaskan tokoh secara gamblang (internal). Di sisi lain, pola pembangunan tokoh dan penokohan bisa dibangun melalui dialog tokoh, perenungan tokoh, dramatik, dan lain sebagainya. Yang istilah saya, pembangunan secara (eksternal). Dalam novel “Elang”, ada beberapa tokoh yang disampaikan secara jelas dan deskripstif. Tengok bagaian sub judul “Pertarungan Dimulai”, pada halaman 16.

“Meski prestisius jabatan telah dia dapat sebagai satu-satunya ilmuwan dari Indonesia yang bisa menjabat sebagai Executive Enginering, jabatan mewah yang selama ini diincar para ilmuwan bule di perusahaan megah itu.”

Lihat juga pada kalimat selanjutnya, “Kali ini aku harus menang. Heh, kamu hanya seniman. Penyair idealis yang tak punya apa-apa kecuali mimpi dan kata. ”

Karakter koloh Elang Timur yang cerdas, jabatan tinggi, keras, tak mudah menyerah dan terkesan bisa menempuh berbagai cara terlihat dari kalimat tersebut. Di sinilah, penulis memiliki kemampuan yang baik dalam membangun tokoh dan penokohannya. Hal ini muncul di berbagai peristiwa yang akhirnya mampu memberikan gambaran perwatakan tokoh secara utuh.

Dalam pembentukan setting atau latarnya, selain latar deskriptif, banyak pula latar-latar spiritual yang disampaikan dalam novel ini. Penulis sepertinya lebih nyaman bermain-main dalam latar spiritual. Penulis tidak menjelaskan secara gamblang tentang suatu lokasi atau latar dari cerita. Penulis cenderung banyak bermain-main di ranah imaji. Keunggulan dalam pola ini yakni pada kemampuan daya imajinasi serta pengetahuan pembaca. Di sini pembaca diberikan keleluasaan penuh untuk melengkapi gambaran-gambaran lokasi dari latar cerita. Pun termasuk latar sosio kulturalnya. Meskipun banyak permasalahan dalam metode ini lantaran daya pengetahuan pembaca yang akan membedakan hasil pembangunan latarnya. Namun, Kirana mampu memberikan sisi lain yang tak kalah menariknya.

Penceritaan yang mapan menjadikan karya ini mengalir. Peristiwa, konflik, klimat disampaikan secara manis. Pun kaidah pemplotan seperti plausibilitas (logika cerita), suspense, surprise, dan kesatupaduannya.

Sudutpandang (point of view) orang ketiga (Dia-an) menjadi pilihan penulis dalam memandang dan mendeskripsikan peristiwa antara tiap persona, yang akhirnya melahirkan seorang yang berada di luar cerita untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita, yakni narator. Sudut pandang bahasa dalam karya ini saat perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Pasalnya, penulis memasukkan berbagai unsur-unsur estetika puitika dalam beberapa peristiwa. Hal ini yang menyebabkan pembaca tidak bisa menangkap secara mudah maksud ceritanya. Perlu ada kesepakatan terhadap simbol-simbol tertentu dan pengetahuan lain.

“Lupakan aku dan kupu-kupu saljuku! Karena aku hanya setetes embun di lelah persinggahan hausmu sesaat!”

Ada pula pada bagian ini: “Apa artinya, Dad?” “I’m immature.” “Mean?” “Infertile!”

Dalam tulisan tersebut pembaca harus menguraikan simbol-simbol yang ada dalam kalimat-kalimat tersebut untuk memberikan makna tertentu pada kisah yang sedang diuraikan. Hal ini yang menyebabkan banyak penafsiran yang berbeda-beda yang mengakibatkan pembentukan karakter yang berbeda pula. Pun pada nulikan selanjutnya tentang istilah-istilah (penting) klinis tersebut. Banyak lagi istilah-istilah yang harus dipahami oleh pembaca untuk mengungkap maksud yang sebenarnya dalam memberikan penjabaran tentang jalannya kisah.

Logika Versus Rasa (Membongkar Sisi-Sisi Keburaman). Mungkin inilah kekuatan dari Novel “Elang” karya Kirana Kejora. Pembaca seakan dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat menguras pikiran dengan alasan-alasannya. Sosok Elang Timur yang digambarkan sebagai sosok “idola” kaum perempuan yang cukup memikat dengan materi, kedudukan, dan segala macam kebutuhan hidup yang mewah. Namun, kemunculan karakter tokoh tersebut tidak langsung bisa dijatuhkan pada sebuah pilihan. Hal ini lantaran tokoh “Elang Timur” harus membayar mahal dengan waktu yang hilang dan berbagai masalah biologis lainnya (cacat fisik, tidak mungkin memiliki keturunan, dll). Sementara, tokoh Elang Laut yang digambarkan sangat romatis, penuh “kata indah” yang menghayutkan, dan segala macam toleransi rasa cukup menggoda dan penuh kejutan.

Di sinilah penulis diuji. Namun, dengan piawai penulis memberikan penawaran dengan menggiring pada satu pilihan untuk menikah dengan Elang Timur dan memiliki benih keturunan dari Elang Laut. Hal ini cukup mengejutkan. Di sini diperlukan satu rentetan peristiwa logis yang rapih, lantaran konflik ini akan bisa menghasilkan permasalahan yang cukup berlarut-larut. Kejelian penulis terhadap masalah terbukti cukup menawan dengan menghindarkan diri dari keterjebakkan “larutnya” atau “konflik” dari masalah ini. Penulis menawarkan hubungan persaudaraan (Elang Timur dan Elang Laut yang ternyata Kembar patrenal) sebagai solusi logis penyelesaiannya.

Nilai-nilai humanis juga banyak muncul dari tokoh Elang Timur. Sosok ilmuwan ini memiliki kepekaan terhadap permasalahan sosial di tempat ia berada. Ini sebuah tawaran yang cukup memikat. Tokoh (manusia) yang diperlakukan secara manusiawi—bukan sebuah robot bernyawa. Seperti halnya pekerjaan atau profesi yang digeluti. Satu diantaranya, ia menjadi bapak asuh dari anak-anak papua yang sangat merindukan asuhannya.

Peristiwa-peristiwa lain yang memiliki fokus yang serupa dapat di simak dalam sub judul “Gelisah Ke Kota Agats.” (tentang Papua) dan “Pertarungan Sejati” (tentang daratan Lombok).

Dalam peristiwa “Gelisah Ke Kota Agats”, muncul kalimat yang di sampaikan oleh pejuang Papua, almarhum John S. Mambo. “Banggalah kalian sebagai orang Papua yang tidaka pernah mengemis di atas tanah yang kaya-raya”. Hal ini cukup “menggelitik”.

Benturan-benturan nilai kemanusiaan ini dikemas dengan berbagai konflik negeri ini dengan munculnya ‘simbol’ pertanyaan seorang anak bernama Simon pada Elang Timur. “Daddy sudah bilang ke bapak Presiden, tentang keinginan Simon, andai Dufan bisa pindah ke sini.”

Dalam pembangunan kisah ini, penulis haruslah peka dan membutuhkan data yang sangat kuat dan akurat terhadap apa yang dikemukakan dalam peristiwanya. Terlebih pada sub judul “Gelisah Ke Kota Agats” dan “Pertarungan Sejati”. Dalam “Pertarungan Sejati” kenyataan sosial tentang kaum miskin yang “dipertahankan” menjadi obyek pariwisata harus ditunjang dengan data-data yang kuat. Apakah benar seperti itu? Memang, hal ini akan melahirkan kontroversi yang tak berkesudahan. Antara pemertahanan budaya dan kepentingan kapitalis. Belum lagi keterjebakannya pada ranah politik dan hegemoni kekuasaan.

Harus diakui, di sini Kirana Kejora tidak mau terjebak pada perdebatan yang tak berkesudahan itu. Bahkan, ia tidak memberikan sebuah solusi terhadap permasalahan ini. Ia hanya menyajikan sebuah potret sosial di suatu tempat yang cukup membuat kita menganga. Hal ini cukup memberikan masukan bagi pembaca untuk menengok dan menyimak realita yang ada.

Nilai-nilai romatis juga menjadi hiasan yang cukup menarik dalam novel ini. Pertarungan dua saudara kembar patrenal untuk mendapatkan hati Kejora cukup mampu menyihir dan menghiasi perjalanan kisahnya hingga jatuhnya sebuah pilihan. Masih banyak lagi permasalah-permasalahan kecil yang cukup menggugah rasa, seperti wacana poligami yang akhirnya tak terlaksana lantaran tokoh Kejora memilih bercerai, ekplorasi dan eksploitasi nusa Papua yang cukup menyedihkan, hilangnya hak-hak seseorang lantaran suatu kepentingan tertentu, dan lain sebagainya.

Membaca “Elang” adalah membaca sudut kecil peta Indonesia yang penuh tanda dan warna. Pola fikir yang berubah menjadi lakuan, menciptakan kebiasaan, dan berkembang menjadi adat ketika terasuki sebuah nilai dan pranata cukup menggoda. Apa yang mau kita berikan tergantung pada apa isi kepala kita. Semoga, Novel “Elang” karya Kirana Kejora ini mampu memberikan keragaman khasasanah Sastra Indonesia. Sukses buat Kirana Kejora! Semoga kau tetap “Kejora”.

Salam

Ciputat, 27 Juli 2009 Handoko F. Zainsam

Perjalanan Rahasia Menuju Pemilik Rahasia

 

 

 

di hitungan rahasia cahaya mula

dia ajarkan mengeja tegak di puncak tahta. jura

pada tumbal apa segala muara air dipadankan

pada tanah segala api dipadamkan—di bumi

kabut segala udara berselang kalut

di langit semua suara bermuara

maha suci engkau! pada kepatuhan atas segala titah. hu!

dalam percakapan cahaya tentang asal

tak ada terang di kecamuk gelap

tak rupa hitam di malam-malam khusuk

—duduk tafakur. rerupa cahaya taklah api

merah kuning kandas di sapta warna

berlabuh pada tiada. hingga segala tak di sama

kilau

(seorang bocah duduk di bawah lampu jalan. melihat lampu-lampu bergerak merayap. pecah di gelap yang mabuk kerinduan. bocah itu menari di tepian jalan. sembari mengacungkan ke atas jari telunjuknya. dia!) 

Jogjakarta, 26 Mei 2011

Para sahabat dan saudaraku, ini cerpen saya yang ada di Jurnal Bogor Minggu, 21 November 2010. Semoga bisa dinikmati.

Salam Hangat selalu

Handoko F Zainsam

 

SHYESHA AINI

Oleh Handoko F Zainsam

 

 

Pengalamanku di pinggiran taman kota malam itu benar-benar tak pernah aku mengerti. Berderet-derat kata mengalir begitu cepat seperti air terjun yang tak henti bergemuruh. Bergaung… Menggaung… “Shyeshaaa…! Shyeshaaa…!”

***

Aku seperti dihadapkan pada kenyataan yang sangat ajaib. Entah, rencana apa yang terjadi malam itu. Yang pasti, itu bukan seperti malam kemarin atau kemarinnya lagi. Apa yang kulihat, memang tak beda jauh dengan malam-malam sebelumnya.

Di jalan raya tepian taman kota itu, aku masih melihat berseliweran kendaran-kendaraan roda dua, roda empat, dan banyak sekali pejalan kaki. Tak ketinggalan, pemandangan khas deretan pedagang kaki lima, plus dengan pencahayaan redupnya, bohlam 10 watt. Di pojok depan, terpajang TV 14” usang yang menayangkan sinetron negeri ini. Ya, sebuah tayangan kisah dari tokoh-tokohnya yang memuja kejahatan, kejaman, dan ketakberdayaan. Kisah panggung layar kaca yang telah banyak mempengaruhi cara pandang pemujanya. Sebuah dunia hitam putih. Airmata dan amarah.

Tak jauh dari kedai kaki lima itu, aku melihat sepasang muda duduk terdiam. Ya, sepasang muda pecinta yang hanya bisa saling diam dan kaku. Mereka hanya melihat dan menatap. Terus melihat dan menatap. Tak ada satupun yang mampu menghentikan tatapan dan pandangannya. Suara-suara bising dari berbagai manusia di seputaran taman kota tak sanggup mengganggu percintaanya yang terasa janggal, aneh, dan tak masuk akal.

Sepasang kekasih itu tetap saja menikmati duduk di kursi panjang berhadap-hadapan. Sesekali mereka tersenyum. Namun aneh, di antara rekah senyuman, aku melihat airmatanya mengalir membasahi pipi sepasang muda itu. Aih, suguhan apa ini?!

 

Sungguh, banyak sekali orang yang lalu-lalang, namun tak menganggap sepasang pecinta itu ada. Bahkan mereka dianggap sebagai patung yang menjadi hiasan taman kota ini. Ada yang berusaha foto bersama, ada yang meraba wajahnya, ada pula yang iseng menaruh berbagai aksesori di tubuhnya.

Yang pasti, tak sedikit pengunjung yang berseliweran memotong tatapan tajam mata mereka. Bahkan ada sekelompok pengunjung yang asyik tertawa-ria menghalangi tatapan mata sang lelaki untuk menjamah mata sang perempuan. Pun tatapan mata sang perempuan untuk membaca kerinduan lelaki yang menjadi kekasih hatinya. Mereka tetap saja diam. Tak berusaha untuk geser atau meminta kepada pengunjung untuk menyingkir.

“Shyeshaaa! Shyeshaaa!”

Suara itu lirih menggaung seantero taman. Tak semua orang mampu mendengarnya. Hanya reaksi sang perempuan saja yang terlihat melepaskan senyum. Dan sang lelaki menyambutnya dengan binar mata yang cerah.

“Shyeshaaa! Shyeshaaa!”

Cinta memang egois dan penyendiri. Privacy and mysterious. Tak pernah bisa dipahami. Meskipun banyak orang lalu-lalang dan tak sedikit yang mampu melihat aura cinta kasih sayang yang terpancar, namun tak satupun bisa memahami arti percintaan mereka. Tetap saja janggal dan terkesan aneh. Banyak orang yang menganggap sepasang muda pecinta itu tak ubahnya sebuah manequin yang terpajang di depan toko busana.

Detak jantung mereka terdengar berpacu begitu menggairahkan. Peluh bercucuran membasahi tubuhnya seperti embun yang menetes di daun pepohonan. Menyusuri ranting dan batang. Jatuh menyentuh bumi.

Mereka tetap saja diam dan sesekali lepaskan senyum dan memendar mata yang cerah. Kilau bintang yang ada di kebiruan langit tersaji begitu indah nan menawan. Sesekali awan pun bergerak menutupinya.

***

“Sudahlah, Nak! Tak mungkin kamu mengharapkan bintang jatuh dari langit. Hidup ini bukanlah sinetron!” ucap perempuan tua itu kepada putranya yang sangat ia kasihi. Anak semata wayang yang telah menemaninya hampir 25 tahun.

“Shyeshaaa! Aku merasakan dia tertekan, Mak! Dia tak bisa menerima kenyataan ini. Dia tak bisa menjauh dariku!” ucap lelaki iti dengan penuh pengharapan.

Perempuan tua itu hanya bisa diam. Airmatanya mengalir bersamaan dengan aliran airmata lelaki semata wayangnya. Dia tak menyangka, anak lelakinya mencintai putri yang telah di asuhnya hampir 20 tahun.

“Iya, Nak! Tapi kenapa mesti Shyesha? Bukankah banyak perempuan cantik yang sangat memperhatikanmu?”

“Tidak, Mak! Tidak! Aku tak mau mengingkari perasaan ini. Aku tak bisa mengkhianati perasaan cintaku dan cintanya!”

“Ini cinta terlarang, Nak!”

“Kenapa ada cinta terlarang, Mak. Kalau memang ada cinta terlarang, kenapa Tuhan memberikan perasaan cinta ini. Apakah aku salah, jika aku berusaha menjalankan perasaan yang dititipkan Tuhan untukku? Salahkah, Mak?”

“Menjalankan rasa yang dititipkan Tuhan memang sebuah kewajiban. Namun, ada juga perasaan yang menjadi ujian buat umatnya. Kamu harus ingat itu!”

“Apakah ini ujian. Jika ini tidak melanggar ayat-ayatnya. Emak, bukan ibu kandung, bukan pula ibu susuan. Emak hanya menjadi pelayan untuk membesarkannya.”

“Sungguh, aku tak menyangka. Ini akan menjadi akhir pengabdianku. Semenjak kecil kalian tumbuh besar bersama. Banyak hal yang telah diberikan keluarga Shyesha untuk kita. Sekolahmu, kehidupanmu, dan semuanya. Apakah seperti ini cara kita membalas?” perempuan tua itu mendongak ke atas melihat langit-langit rumah. Mengharap airmatanya tak jatuh.

“Aku tak mengharap perasaan cinta ini ada. Aku juga tidak tahu kapan perasaan ini ada, kenapa perasaan ini ada, bagaimana mula rasa ini. Aku sama sekali tidak paham. Aku hanyalah akibat dari sebab, Mak!”

“Mak nggak tahu. Harus bicara apa lagi padamu. Mak sudah tidak tahu lagi apa yang seharusnya Mak sampaikan. Jika memang ini menjadi akhir pengabdian kita untuk keluarga Shyesha, maka yang apa terjadi, ya terjadilah!”

Perempuan tua itu bergegas meninggalkan anaknya yang masih duduk di hadapannya. Ia kehilangan kata untuk memberikan kesadaran apa yang ada dalam pikirannya. Ketakutan, kegundahan, dan kebimbangan yang telah mendekam akhir-akhir ini. Perempuan tua itu menutup pintu kamarnya dengan hilangnya harapan. “Jika memang itu yang menjadi pilihanmu, aku hanya bisa mengikutinya, Nak!”

***

Shyesha. Ya, Shyesha Aini nama perempuan itu. Perempuan yang telah menyeretku ke perjalanan panjang kisah yang menyedihkan. Perempuan yang telah memberiku penyadaran atas segala rencana hidup. Perempuan yang tidak akan pernah hilang dalam sejarah hidupku. Mungkin hingga kematian datang menjemputku. Sungguh, bukan aku atau pula dia yang salah. Namun, aku dan juga dia yang salah yang menjadi penyebab kisah ini ada.

Aku tulis pengakuanku agar semua tahu tentang rencana cinta yang menyakitkan; tentang skenario kerinduan yang sekarat. Di sini, aku hanyalah penyampai segala rasa sakit atas nama perasaan; senyum dan airmata. Jauh dari apa yang disebut indah dan mendamaikan. Kisah klasik tentang cinta yang seharusnya menawar segala kebencian dan iri dengki. Cinta yang seharusnya menjadi kitab suci para manusia.

Shyesha Aini. Dara yang telah memberiku keteduhan saat memandang. Dara yang memberiku kedamaian saat aku lara. Dara yang memberiku semangat saat aku terjatuh. Dara yang kerap menemaniku berdebat dan menjelajah tentang segala pengetahuan. Dara yang kerap marah kalau hasil akhir perdebatan memihak padaku dan tentu sebaliknya, akan menjadi romantis saat pikirannya menemukan kebenaran dibanding pikiranku. Kemanjaannya, kemarahannya, dan kecemburuannya, sungguh telah menenggelamkanku.

Entah, bagaimana risalah mula kelahiran rasa yang bergelar kerinduan dan cinta ini. Aku tak pernah menyadari. Hingga sampai pada satu masa, aku dan dia terdera getaran-getaran lain yang tidak sekedar sahabat atau kakak adik. Gelora yang kerap disebut sebagai asmara.

Takdir keluargaku sebagai pengabdi. Takdir keluarganya sebagai yang diabdi. Namun, aku yakin takdirku dan takdirnya adalah kebersamaan; saling mencintai, mengasihi dan menyayangi. Namun, takdir ini tidaklah semudah ada yang seharusnya terjadi. Mungkin pula memang ini adalah perjalanan takdir yang harus aku lalui.

Melawan arus. Ya, mungkin itulah kalimat yang tepat untuk membahasakan perasaanku dan perasaannya. Berkali-kali aku berusaha meredam rasa, namun kian kuat rasa itu mengemuka. Berkali-kali aku berusaha untuk menghindar, berkali itu pula aku terjatuh. Aku seperti burung yang kakiku terikat batu. Seberapapun aku terbang, tak bisa jauh dari batu yang menjadi pembebannya. Sekuat apapun aku meniadakan namanya, sekuat itu pula namanya terus mengemuka di pikiran dan aliran darahku.

“Untuk para pembaca, maaf, aku larut dalam menuliskan ini. Aku sungguh merindukan Shyeshaku! Shyeshaaa! Aku tulis puisiku ini untukmu. Bacalah! Bacalah!”

Aku dihujani gelembung-gelembung hati, saat mataku nanar menatapmu. Pada kesekian kalinya, aku kembali meniadakan kata yang selalu menyerah pada rasa.

Sudahkah kau memahami, berapa harga kebencian yang bersemayam dalam diri; di sebelahnya rasa cinta yang dikhianati. Hum tara tarataram.  Batu akan menjadi kuasa saat terik membabi buta. Mencengkeram wajah. Menyerang aorta dalam didih. Dan segera menyerah pada hujan yang akan mengikis wujudnya menjadi pasir. Lantas angin barat menerbangkannya ke mimpi-mimpi yang membangkitkan kegundahan tidurmu.

Aku dirubuhi gelembung-gelembung rasa, saat senyummu menikam belahan kiri dadaku.

Sudahkah kau mengerti, di mana letak kerinduan, saat jarak teramat dekat. Apakahkah kau lupa bahwa sebenarnya kita tak mengambil jarak. Jiwamu teramat dekat di belahan dada kiriku yang kau hujam dengan senyummu.

Aku kini dikerubuti gelembung-gelembung prasangka, saat kau pergi begitu saja selepas pejamuan pada setiap detik aku menyebut namamu. Dan dalam heningku kamu menjilma menjadi udara dalam nafas kerelaanku.

Sungguh, kini aku diserang gelembung-gelembung namamu. Mati terkutuklah aku!

***

Tak ada yang bisa memahami mekanisme cinta sepasang muda itu. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwasannya sang perempuan merasakan keperihan yang teramat sangat. Pun demikian bagi sang lelaki. Rasa sakit yang semakin kentara melahirkan keringat dingin yang memenuhi kening mereka. Rasa sakit yang berusaha ditahan dan dilawan.

Semakin lama rasa sakit dan perih itu semakin menancap kuat di ulu hatinya. Hingga tersungkur tak mampu bertahan.

“Shyeshaaa! Shyeshaaa!”

Kembali suara itu terdengar lantang membahana. Namun sepi. Kian sunyi. Tak ada jawaban dari sang perempuan. Tak ada gerak dari sang perempuan. Tak ada aura yang terpancar dari sang perempuan.

“Sss… sam! Di.. di..ngin!” perlahan suara sang perempuan keluar terbata-bata. Sekejap pula sang perempuan itu pejamkan mata dan lepaskan sebuah senyuman. Gundah hati sang lelaki. Di pelupuk mata perempuan kekasihnya itu mengalir air bening yang telah menjadi merah. Ia telah tiada.

“Shyeshaaa! Shyeshaaa!!!”

Lelaki itu terdiam. Ia pejamkan matanya. Dia tahan segala perasaannya. Dia simpan begitu rapat. Tak terasa airmatanya itu pun keluar dari mata yang biasa pancarkan kecerahan. Lelaki itu terus menatap sang perempuan yang telah memejamkan mata untuk selama-lamanya. Hingga pada tapal batas. Sang lelaki hembuskan nafas terakhirnya dan abadi memejamkan mata. Percintaan mereka. Kasih sayang mereka.

Sungguh, mereka masih ada di pinggiran taman. Banyak sekali orang yang lalu-lalang, namun tak menganggap sepasang pecinta itu ada. Bahkan mereka dianggap sebagai patung yang menjadi hiasan taman kota ini. Ada yang berusaha foto bersama, ada yang meraba wajahnya, ada pula yang iseng menaruh berbagai aksesori di tubuhnya.

Kampung Bulak, 06 Oktober 2010

Cerpen Handoko F Zainsam (Republika, 17 Januari 2010)

TAK seorang pun berani main-main dengannya. Dia perempuan terhebat yang pernah ada di negeri ini. Semua orang mampu dibuatnya jatuh cinta. Lantaran memburu cintanya, tak jarang terjadi silang sengketa, pertikaian, bahkan pembunuhan. Sungguh, tak seorang pun berani sembarangan menyebut namanya. Paling hanya menyerukan julukannya saja. Tak lebih, tak kurang. Ada yang menjulukinya Venus. Ada yang memadankan dirinya dengan Hera, Gaia, Maria, Hawa, atau Aisyah. Ada pula yang menyandingkannya dengan Sumbi atau Pariyem.

Begitulah. Perempuan itu tak henti-henti menghiasi halaman media cetak dan elektronik, bahkan merambah dunia maya. Di setiap jejaring sosial dan komunitas, namanya selalu sarat pikat dan penuh pukau. Ia jadi penghangat setiap perbincangan siapa saja dan di mana saja, baik lelaki maupun perempuan. Di hotel, di kantor, di salon, di pinggir jalan, bahkan di rumah-rumah ibadah. Ia adalah pengisi mimpi setiap laki-laki. Tak hanya petinggi negara, rakyat jelata pun terpesona pada kecantikannya. Bahkan, perempuan terpikat padanya. Ia permata yang tak pernah kehilangan pendar kilau.

Perempuan itu telah menjadi virus sosial yang mewabah. Keindahan rambut hitamnya yang tergerai panjang; keharuman tubuhnya yang meruah di segenap ruang meski ia telah berlalu; bening matanya yang menghanyutkan; bibirnya yang merona merah merekah; terlebih senyum indahnya yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya.

Konon, perempuan itu tinggal di sebuah tempat yang terjaga ketat. Tak seorang pun bisa dengan mudah mendekatinya. Apalagi menemuinya. Jika berniat melihatnya, pastilah harus menempuh jalan berliku dan penuh tantangan.

***

Mendengar kabar kecantikan perempuan itu, kaum lelaki berlomba mendapatkannya. Betapa tidak, semua lelaki meyakini perempuan itu adalah calon ibu terbaik bagi anak-anaknya, wanita paling teduh untuk dipinang menjadi istri, dan teman terkarib jika diangkat sebagai sahabat. Begitu halnya dengan seorang pembunuh bayaran kelas kakap dan buronan nomor wahid kepolisian. Lelaki begal yang ditakuti itu pun sangat terobsesi untuk menyunting perempuan itu. Sura, begitulah namanya diserukan. Identitasnya tak pernah jelas. Wajahnya saban waktu berganti rupa. Jangan harap ia bisa ditemukan dengan mudah. Polisi saja kewalahan mengejarnya. Dia tak pernah melakukan pola yang sama dalam setiap modus operandinya. Tak ada kegagalan jika kita teguh melaksanakannya. Begitu prinsip hidupnya.

Demi perempuan itu, banyak yang berani membayar upahnya 10 kali lipat dari biasanya. Kali ini, semuanya ia tampik. Ia telah menentukan pilihan: perempuan ternama itu harus jadi miliknya, apa pun risikonya.

Sungguh tak susah bagi Sura untuk melacak keberadaan perempuan dengan mata dan senyum terindah itu. Tak lebih dari 24 jam ia sudah berhasil menemukan di mana perempuan itu bermukim. Sura memang dikenal jenius. Daya ingatnya kuat. Ia mampu menghafal setiap informasi yang diserapnya dalam waktu singkat, dan dengan sigap mengolahnya menjadi muslihat baru untuk memuluskan strateginya.

***

Malam. Di perkampungan pinggir hutan dekat lokasi tujuan, Sura singgah di sebuah kedai. Seperti rumor yang berkembang, perempuan itu selalu menghiasi perbincangan warga. Tak susah mencari beritanya. Ia simak dengan saksama setiap obrolan pelanggan kedai. Tapi, ada yang janggal. Tak seorang pun keceplosan menyebut nama perempuan itu. Mitos yang berkembang, jika ada warga yang menyebut namanya, dalam jangka waktu singkat orang itu bakal menderita panas tinggi. Atau raib begitu saja. Musnah tanpa jejak.

Tapi, cukuplah rasanya kabar yang diserapnya. Sura pun bergegas merambah hutan lebat tanpa nama itu, hingga tiba di tepi sebuah sungai. Di seberang sungai menghampar hutan lebat lagi, lalu perkampungan tempat perempuan idamannya bermukim. Kali ini terasa lain. Sungguh, belum pernah ia merasa segugup ini. Detak jantungnya sangat kencang dengan irama tak beraturan. Belum lagi peluh dingin yang membanjiri jidatnya. “Ada apa ini,” keluhnya dalam hati. Ia menceburkan diri ke sungai, lalu mengguyur wajahnya. Dingin. Membekukan.

Selepas membasuh wajahnya, jantung Sura mulai stabil. Terang purnama memberikan cahaya cukup. Ia pun menyeberangi sungai dengan air setinggi lutut itu, lalu merambah hutan lagi. Tak terlihat sesiapa. Hanya sesekali terdengar kowak burung hantu, geretak angin di ranting pinus, dan gemericik air sungai.

Tak dinyana, seekor musang meloncat jarak setombak di depannya, bergegas menghilang di rimbun semak. Seketika Sura makin berhati-hati. Hawa hangat meruap di pori-pori wajahnya. Hatinya waswas. Namun, petuah leluhurnya kembali meruyak ingatannya. Jangan sekali-kali kau ragu. Ambil keputusan bermain atau tidak sama sekali. Sura menghapus keringat dinginnya, lantas melangkah penuh keyakinan menerabas hutan.

Tiba-tiba kesiur angin terasa menabrak pelipisnya.

“Siapa?” ucap Sura.

Tak ada jawaban. Hanya kesiur angin dan gemericik sungai terdengar membelah malam. Sepi. Sura kembali melangkah. Kemudian, samar-samar terlihat seorang laki-laki pendek bertelanjang dada. Pendek sekali orang itu, hanya setinggi pinggang Sura. Nah, akhirnya ketemu orang juga, batin Sura.

“Permisi, Pak,” sapa Sura.

Tak ada jawaban. Lelaki pendek telanjang dada itu masih duduk memunggungi Sura.

“Permisi. Izinkan saya lewat!” ucap Sura lagi.

Lelaki itu tetap membisu. Akhirnya, Sura menyadari siapa lelaki kate itu. Pasti Wong Alusan pengawal luar, katanya membatin. Seperti yang pernah diceritakan leluhurnya dulu, ia ingat apa yang harus dilakukan. Ia segera membalikkan badan dan berjalan mundur melewatinya. Ajaib. Tak terasa Sura telah berada di sebuah persawahan yang sangat luas. Kabut tipis yang turun sedikit mengganggu pandangnya.

“Di sini biasanya orang mati,” terdengar kalimat tanpa rupa pengucapnya.

Sura acuh. Dengan langkah pasti, dia berjalan menyusuri pematang sawah. Dia pun melihat seorang lelaki pendek dengan ikat kepala berdiri di pematang menghadap hamparan sawah. Aneh, tengah malam buta kok berdiri di pematang, pikirnya.

“Maaf, Pak. Permisi, izinkan saya lewat,” sapa Sura.

Lagi-lagi tak ada jawaban. Sepertinya tak mendengar suara apa pun. Melihat itu, Sura berjalan menyamping, setapak demi setapak. Mendadak kabut turun teramat pekat. Sura tak mampu melihat apa yang ada di hadapannya. Sungguh perjalanan mencengangkan. Jauh dari kebiasaannya ketika menyelesaikan tugas sebagai pembunuh bayaran.

Dan, tiba-tiba saja pagi telah tiba.

Aneh. Kini, ia berada di sebuah taman bunga. Terlihat beberapa anak sedang mengejar kupu-kupu. Tak jauh dari tempat anak-anak bermain, sepasang petani sedang menyirami bunga aneka warna. Tapi, ganjil. Ia lihat anak-anak tersenyum dan bercanda, namun ia tak mendengar suara mereka. Ia lihat petani itu bercengkerama. Namun, lagi-lagi, ia tak mendengar suara mereka.

Sura tak menyia-nyiakan waktu. Ia bergegas menelusuri jalan menuju danau. Dilihatnya sebuah rakit bersandar. Di sebelahnya, di atas kursi dari batang bamboo rangkap lima, seseorang tertidur. “Apa lagi ini,” ucap Sura lirih. “Pagi sudah cerah, orang ini masih tertidur lelap. Pasti Wong Ndalem pengawal inti.”

Wajah orang itu tertutup caping. Tak lebih tiga langkah, Sura mengucap salam.

“Permisi, Pak. Izinkan saya menyewa rakit!”

Tak terdengar jawaban. Lelaki itu masih tertidur lelap.

“Izinkan saya menyewa rakit, Pak!” ulang Sura sembari melipat tangan di dadanya.

“Saya tidak menyewakan rakit!” jawab lelaki itu tanpa gerak.

“Izinkan saya meminjamnya.”

“Saya tidak meminjamkan!”

“Ajarkan saya mengemudikan rakit!”

Lelaki itu terbangun dan mendongakkan kepala. Alangkah terkejutnya Sura, lelaki itu memiliki wajah dan tubuh persis seperti dirinya. Tak ada sedikit pun yang beda. Gerak-geriknya, gayanya, bahkan tutur-sapanya. Sura terperanjat.

“Siapa kau?” tanya Sura spontan.

“Saya?”

“Ya!” tegas Sura.

“Naiklah ke rakit!” Terdengar suara itu berat dan kuat.

Sura seketika terdiam. De javu.

“Apa ini!” serunya, “Aku ingat, ini kisah yang selalu ayahku ceritakan sewaktu kecil.”

Lalu, hawa lembut memilin-milin ulu hati, dan lutut Sura melemah. Terduduk, bersimpuh di hadapan lelaki kembarannya itu. Detik itu pula Sura tersungkur. Gelap. Semakin gelap!

***

“Bangun!”

Sura tertegun melihat sekelilingnya. Sekarang tubuhnya tergeletak di halaman rumah mungil yang mengambang di tengah danau. Ia bangkit perlahan-lahan. Menatap kembarannya dengan kebingungan.

“Saya hanya mampu mengantar sampai di sini. Masuklah!” kata lelaki itu, lalu membelokkan perahu setelah Sura menjejakkan kaki di tanah.

Dengan sisa-sisa tenaga, Sura mendekat. Belum sempat tangannya menyentuh, tiba-tiba pintu terkuak lebar. Terpampang pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ruang kosong. Melompong. Dan putih. Harum bunga melati seketika menyerang penciumnya.

Tak ada siapa pun. Ruang tanpa rupa. Tanpa kursi, tanpa meja. Tanpa sekat, tanpa kamar. Terang-benderang. Lembut, dan menguarkan kedamaian.

“Perasaan ini. Masa kecil. Aku tak bisa melupakannya.” Sura bergerak perlahan memasuki ruangan. Kenangan yang telah lama dikuburnya itu semakin membebat. Kasih sayang itu terus menggedor-gedor pintu batinnya. Semakin lama semakin kuat. Hingga tak mampu lagi ia menahannya. Ia tersungkur. Lamur. Pandangannya mengabur.

***

Sura, lelaki peringkat pertama daftar pencarian orang (DPO) pihak kepolisian yang disegani dan ditakuti banyak orang, sekarang tersungkur tanpa daya. Lelaki yang bisa mencabut nyawa orang seenak perutnya itu sekarang tak bisa apa-apa. Kini, di rumah perempuan idamannya, perempuan incaran untuk disunting sebagai istri, berdiri saja ia tak sanggup. Hanya bisa pasrah.

Dan, begitu kelopak matanya terbuka, perempuan itu berdiri semampai tiga langkah di depannya. Hanya tiga langkah, tapi ia tak mampu menjangkaunya. Dan senyum itu, oh, senyum itu begitu indah. Belum pernah ia melihat senyum seindah itu. Benarlah kiranya kabar yang beredar. Perempuan dengan mata dan senyum terindah itu pun merentangkan tangan seperti ingin memeluknya.

Tapi, penglihatan Sura kembali lamur. Makin lama makin kabur.

“Ibu!” Terdengar suara lirih itu dari mulutnya.

Tak lama, ruangan seketika menjadi gelap. Pekat. Amat pekat. (*)

Handoko F Zainsam, penggagas dan pendiri Komunitas Mata Aksara (KomMA) Jakarta. Karya-karyanya: I’m Still a Woman tahun 2005 (novel); Antologi Puisi Kota Sunyi Tahajud Cinta Kunang-Kunang (2009).

Catatan: Tulisan yang dimaksudkan untuk menelisik buku kumpulan puisi “Kota Sunyi: Tahajud Cinta Kunang-kunang” ini dimuat di Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu (11/10/2009).

"Diam diam tahajud cinta berkumandang. Diamlah... Ada cinta di sana." Kumpulan puisi Handoko F Zainsam ini dapat di pesan di inbox Facebook an Handoko F Zainsam. Harga Rp.25.000,- atau kunjungi website http://www.gentapustaka.co.id

“KOTA TUHAN, KOTA CINTA…”

Oleh Khrisna Pabichara

 

SUATU KETIKA, Jalaluddin Rumi berujar, “Perjalanan menuju Tuhan sebanyak bilangan nafas insan.” Karena itu, jalan menuju Tuhan dipenuhi labirin yang membingungkan dan menyesatkan. Kita sering tidak menyadari apakah bakal menjadi seorang saleh yang taat atau seorang gila yang sesat. Kita pun sering ragu apakah sudah menempuh jalan kebenaran hakiki atau malah menapaki lorong kebinasaan sejati. Perjalanan religius itu tidak hanya menuntut kecerdasan emosi, tapi sekaligus membutuhkan kepekaan ruhani.

Puisi—bagi beberapa “penyair”—menjadi pilihan dalam meneruka perjalanan ruhani, perjalanan menuju Tuhan. Sebut misalnya Jalaluddin Rumi. Melalui Masnawî, Dîwân-i Syams-i Tabrîz dan Fîhî Mâ Fîhî, Rumi bertutur tentang kisah penyatuan antara dirinya sebagai “pencinta” kepada Tuhan sebagai “kekasihnya”.

Begitu pula Adonis, sastrawan Arab kontemporer, yang menuangkan kembara jiwanya melalui puisi-puisi penuh pukau. Pada Mihyar, Adonis bersyair: //Seorang Tuhan telah mati/Tuhan yang dulu turun dari sana/dari tengkorak langit.//

Bagi Rumi dan Adonis, agama bukanlah alat ritus belaka, melainkan “kendaraan” menuju perjalanan ruhani yang mencengangkan. Perjalanan yang menawarkan kebaruan dalam memandang bangunan keilahian. Mereka meyakini puisi dapat mengantar “umat pembacanya” menyusuri imajinasi-imajinasi dan perenungan-perenungan yang dalam, karena puisi memiliki potensi untuk menghadirkan sensasi tekstual, sekaligus sensasi “sakral” dengan kekayaan makna spiritual.

Eka Budianta juga memanfaatkan perjalanan ruhani sebagai sarana puitiknya. Ia meneropong ihwal gereja—sebagai Rumah Tuhan—yang sakral, “maqam” untuk merekam ritus-magis semisal pelepasan jenazah, pembaptisan, dan pernikahan. Ritus yang dipenuhi-sesaki oleh nilai ruhani. Bahkan, pada puisi Sketsa Burung Desember, ia bergerak liar menarikan gelisah hatinya ketika diamuk rindu pada Tuhan: //Seekor burung di hutan agama/tidak menciap-ciap memanggil Tuhan/ketika surga menyebut namanya.//

Sebut pula Afrizal Anoda yang menolak penjara dogma statis tentang penamaan dan penyebutan Tuhan. Katanya: Tuhan, atau apalah Kau mesti kupanggil. Ia meneriakkan keinginan untuk lebih intim, maka ia pampatkan jarak antara “aku” dengan “Kau”. Begitu imbuhnya dalam sajak Doa.

Hal sama dilakukan oleh Handoko F. Zainsam. Penyair yang mendalami sastra Jawa ini banyak meniupkan ruh-ruh spiritual pada sajak-sajak yang dihimpunnya dalam antologi puisi Kota Sunyi: Tahajud Cinta Kunang-kunang. Ia membedah pergulatan batin yang dialaminya. Ia memotret sisi “magis” hubungannya dengan Dia Yang Segala. Ia bermain dengan “cantik” dalam balutan diksi, majas, dan gaya bahasa. Baginya, Tuhan tidak “menakutkan” sehingga harus diperlakukan sebagai “musuh” mengerikan. Ia malah mengajak Tuhan—seperti menggandeng teman sepermainan—menikmati jamuan makan malam. //Hanya seteko doa/Yang bisa aku tuangkan/Dalam gelas-gelas permohonan/saat jamuan makan malam//. Ada nuansa intim dari ajakannya itu. Ia seperti seseorang yang memendam hajat besar, lalu menawarkan perjamuan, agar bisa menuturkan permohonan pada sahabatnya. Akrab. Dan mesra. Tanpa ruang, tanpa jarak.

Kota Sunyi menjadi terminal bagi Handoko dalam menempuh perjalanan ruhani. Dewasa ini, tidak mudah menemukan kota sunyi di tengah semarak modernitas, sama tidak mudahnya “mengasingkan diri” dari belitan hasrat duniawi. Dalam antologi Kota Sunyi, penyair mengamsalkan dirinya sebagai “kunang-kunang” yang sedang melakukan “tahajud cinta”. Mengapa harus kunang-kunang? Kita tentu tidak asing pada serangga yang gemar terbang rendah dengan cahaya yang meruah dari kedua sayapnya itu. Itulah metafora, itulah alegori. Maka kota sunyi, tahajud cinta, dan kunang-kunang, menjadi kata-kata cerdas untuk menisbahkan ekspresi pencarian, penuh makna artifisial yang bisa memudahkan penikmat sajaknya dalam membangun asosiasi imajinasi di luar bangunan teksnya.

Coba kita simak sajak Bintang. //Hentikan tunjukan jarimu/Bintang tak kan selesai kau hitung/karena langit tak kau tahu tepinya//. Handoko berhasil menitiskan kompleksitas persoalan eksistensialisme modern melalui tamsil “bintang”. Ia seperti menegaskan bahwa kita lebih banyak “tidak tahu”, justru ketika kita kerap mengaku “banyak tahu”. Padahal, seperti pesan Martin Heidegger, kita sendiri lebih sering tidak mengetahui “apa” yang kita cari, termasuk “kenapa” dan “bagaimana” mencarinya. Maka, tentu saja, supaya perjalanan ruhani yang kita tempuh bisa menapak anak tangganya, seyogianya, kita lebih banyak menggunakan “mata batin” ketimbang “mata lahir”, sama seperti ketika menatap atau menghitung bintang bagi Handoko.

Begitulah, petualangan Handoko adalah kembara tak berujung, lelaku pencarian yang tak kunjung usai. Ia terjebak dalam pengelanaan yang buram, mengedari labirin kota yang sunyi dan menyesatkan. Tapi ia punya suluh bernama “cinta”. //Aku ingin mendengar kata cinta/Bukan dongeng kancil dengan buaya/Yang terjebak kebohongan//. Lagi-lagi, lewat sajak Kata Cinta, penyair mengajak kita membuka selubung “topeng” yang menyungkupi wajah. Amsal dongeng kancil dan buaya bisa kita cantelkan pada keberadaan surga dan neraka, yang jadi patokan para “hamba” pemburu pahala. Sebagai pencinta, ia tidak ingin terjebak pada imbalan surga ketika ia berbuat kebajikan dan ganjaran neraka sesudah ia melakukan kejahatan. Bahkan tanpa ada surga dan neraka pun, ia akan tetap mencinta, sebagaimana Rumi dan Adonis mencintai “Sang Kekasih” atau Eka dan Afrizal menyapa Tuhan dengan cintanya.

Maka, jelaslah, untuk memasuki tualang menantang di tengah “Kota Tuhan”, kita bisa menjadi seperti “kunang-kunang” yang merentang sayap-sayap bercahaya cinta…

KHRISNA PABICHARA,
penyuka sastra, tinggal di pinggiran Jakarta.

Telisik atas kumpulan puisi “Ma’rifat Bunda Sunyi: Tahajud Cinta Para Kekasih” yang di muat di http://www.kompas.com

"Pertemuan cintaku dan cintamu adalah tragedi anomali ruang dan waktu" Kumpulan puisi Handoko F Zainsam ini dapat di pesan di inbox Facebook an Handoko F Zainsam. Harga Rp.35.000,- atau kunjungi http://www.gentapustaka.co.id

 

PERAYAAN CINTA PARA KEKASIH

Oleh Citra Setiowidiah*

 

Cinta adalah ungkapan gejolak rasa takjub dan terpesona—baik itu ditujukan kepada sesama manusia, alam, maupun Tuhan. Sementara ketakjuban dan keterpesonaan adalah pengalaman rohani atas sebuah kesaksian atas apa yang dilihat, dirasa, didengar. Itulah kesan pertama saat membaca Kumpulan Puisi Handoko F Zainsam berjudul “Ma’rifat Bunda Sunyi: Tahajud Cinta Para Kekasih”.

Kita seperti diajak dan diseret untuk memasuki ranah-ranah keterpesonaan dan ketakjuban, baik antar sesama (kekasih hati), alam, dan Tuhan. Hal ini mengingatkan pada beberapa perjalanan para darwis atau para sufi menemukan hakikat cintanya. Di sinilah perayaan cinta itu dilakukan oleh para kekasih.

Dipilihnya puisi sebagai medium penyampai memang memiliki kekuatan yang cukup mapan untuk mengungkapkan segala kegelisahan perasaan dengan mengusung keindahan melalui perangkat bahasa; kata. Hal ini lantaran puisi merupakan salah satu medium yang mampu menyampaikan sebuah rekaman dan interpretasi pengalaman penting manusia yang diubah dalam wujud yang memiliki kesan kuat guna mengekspresikan pemikiran melalui pola penyampaian yang singkat dan padat.

Puisi juga mampu membangkitkan perasaan, emosi, dan imajinasi. Memiliki irama dan menggunakan kata-kata kias yang terikat oleh konvensi bahasa yang harus dipatuhi yang akhirnya menjadi identitas puisi itu sendiri menjadi indah. Namun, puisi juga kerap melakukan pemberontakan melalui sarana puitik; imajinasi yang mencoba melakukan berbagai siasat agar dapat sedekatnya mewakili dirinya.

Lantas, bagaimana dengan puisi “Ma’rifat Bunda Sunyi (MBS) karya Handoko F Zainsam ini?

Dari total 89 puisi yang terbagi menjadi 3 bagian pembabakan yakni, “Aku dan Gelembung” (48 puisi), “Ma’rifat Bunda Sunyi” (26 puisi), dan “Munajad Keabadian” (15 puisi) menjadi cukup menarik untuk mendekati karya ini melalui pendekatan hermeneutik—pendekatan dengan mengutamakan pembacaan karya sastra berdasarkan konvensi sastra setelah dibaca secara berulang-ulang (retroaktif).

Pembacaan hermeneutik merupakan sebuah kajian terhadap sistem sastra yang lebih mendalam. Dalam hal ini, pembacaan hermeneutik akan memfokuskan pada makna secara keseluruhan yang memiliki konvensi tertentu yakni ketidaklangsungan ucapan (ekspresi) sajak meliputi penafsiran penggantian arti—kata-kata kiasan menggantikan arti sesungguhnya, terutama metafora. Sedangkan, penyimpangan arti dalam puisi tersebut tentu akan banyak sekali terdapat makna ganda (ambiguitas) dan kontradiksi baik dalam kata-kata, frase, dan kalimat sebagai efek pemaknaannya.

Kekuatan diksi dan mapannya konstruksi estetika sastra menjadi kekhasan Handoko F Zainsam dalam penyampaian di beberapa puisinya. Tengok salah satu puisinya yang berjudul Pendoa Yang Gagal yang cukup mapan pembangunannya. // Aku tak bisa berdoa sungguh malam ini untukMu / Karena aku tak mampu menghentikan / Tarian jantungku yang berputar cepat / Saat namaMu menguasai gerak rasa dan pikiranku //

Metafora yang dibangun sebagai tulang penyangga estetikanya, cukup tegas dalam mengaitkan seorang hamba yang begitu mencintai Tuhannya, sampai-sampai ia tak mampu berkata-kata setiap menyebut namaNya.

//Aku tak bisa berdoa sungguh malam ini untukMu/ mengandung makna seorang hamba Tuhan yang tak bisa berdoa, memohon, atau meminta. Baris ke-2, ke-3, dan ke-4 /karena aku tak mampu menghentikan / tarian jantungku yang berputar cepat / Saat namaMu menguasai gerak rasa dan pikiranku // mengandung makna yang keseluruhannya mengacu pada baris sebelumnya bahwasannya ia tak mampu melakukan apapun karena setiap menyebut nama Tuhan.

Dalam bait ke-1 baris ke-3 /Tarian jantungku yang berputar cepat/ adalah gaya bahasa personifikasi dan mengandung makna detak jantung yang berdebar kencang, maka tarian jantungku atau detak jantungnya berdebar kencang. Bahkan, ia tak mampu mengendalikan seluruh rasa dan pikirannya karena kuatnya rasa takjub dan terpesona kepada Tuhan.

Pada bait ke-2 // Aku tak bisa berdoa sungguh malam ini untukMu / karena keringat dinginku tak bisa ku hentikan / Saat jiwaku terselubung kilau cahaya / dan melebur dalam rasi bintang / yang bersarang di jagad belantara raya/ mengandung makna ketika menyebut nama Tuhan, keringat dinginnya keluar dan tak bisa dihentikan lantaran rasa takjub yang amat dahsyat.

Saat jiwaku terselubung kilau cahaya/ merupakan metafor dari jiwa yang begitu dekat dengan Tuhan sang pencipta alam. Jiwanya berubah menjadi kilauan cahaya yang begitu luas tak terbatas. Jiwanya ’bersarang’ di jagad belantara raya. Artinya, jiwanya berada di segenap pelosok semesta raya. Jiwa yang dimaksud adalah ruh yang telah Tuhan titipkan dan suatu saat nanti akan kembali. Maka sesungguhnya jiwa adalah milik Tuhan sendiri.

Hal ini mengingatkan saya pada para pecinta atau para sufi yang begitu terpesona ketika ia berulang-ulang menyebut nama Tuhan. Seperti layaknya Jalaluddin Rumi, ia menemukan perasaan itu ketika ia bergerak memutar dalam tariannya; sama’.

Dalam konstruksi sastra (estetika puisi) penyimpangan arti terjadi bila dalam puisi ada ambiguitas dan kontradiksi. Kata-kata, frase, dan kalimat sering mempunyai arti ganda atau menimbulkan banyak tafsiran. Hal ini tertuang dalam bait ke-2 baris ke-5 pada kata /jagad belantara raya/ dapat diartikan alam semesta, bumi, langit dan isinya, tempat yang luas dan liar, dan lain sebagainya.

Bait ke-3 //Sungguh aku pendoaMu yang gagal / lantaran dalam ruangku / tak kutemukan siapa-siapa; selain aku!/ mengandung makna seorang hamba yang tidak dapat meminta apapun lagi ketika jiwanya telah dekat pada Tuhan karena tujuan utama dalam hidup adalah mencari ridha Tuhan. Di sinilah sesunguhnya esensi yang dicapai; penyatuan—yang dalam baris terakhir dituliskan tak kutemukan siapa-siapa; selain aku!

Dari keseluruhan pembacaan baris per baris, bait per bait dalam puisi Pendoa Yang Gagal ini dapat ditarik sebuah kesimpulan tentang lelaku seorang hamba yang beriman kepada Tuhan dengan sungguh atau dengan seluruh. Ketika jiwanya yang sudah terasa dekat, dan bahkan seakan merasa menyatu dengan Tuhan, maka tidak ada keinginan yang hendak diutarakan lagi kepada-Nya. Karena ketika jiwa telah mendekat kepada Tuhan, maka seseorang tidak membutuhkan apa-apalagi sebab yang dicari telah didapatkan yaitu ridha Tuhan yang Maha Esa.

Pendoa yang Gagal adalah salah satu puisi yang sarat dengan kekuatan kata dan makna yang terangkai dalam keindahan bahasa—hal ini juga terdapat dijumpai dalam “Sajakku Pecah O Badai Darah”, “Sajak Cinta Untuk Dia (Menuak Kau! Aku! dan Tu(h)an)”, “Munajad Keabadian”, dan lainnya yang keseluruhannya terkumpul dalam “Ma’rifat Bunda Sunyi” ini.

“Ma’rifat Bunda Sunyi” merupakan kumpulan puisi yang menggambarkan pemahaman sebuah realita hidup manusia tentang cinta, rasa kemanusiaan, agama, seni, dan negara yang diramu menjadi satu dalam konteks perayaan cinta para kekasih.

Cinta para kekasih akan memberikan kedamaian dalam menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhannya. Kehidupan sosial, politik, ekonomi, agama, dan budaya akan menjadi tertata jika dialirkan perasaan saling mencintai dan menyayangi. Pesan yang sangat kuat yang juga terdapat dalam judulnya, Ma’rifat Bunda Sunyi. Kata ‘Ma’rifat’ memiliki penyerahan diri. Kata ‘Bunda’ memiliki keterkaitan erat dengan sosok yang sangat dekat dengan rasa cinta dan kasih sayang. Sedangkan ‘Sunyi’ adalah kondisi yang sangat sarat dengan nuansa kontemplasi dan perenungan.

Membaca MBS adalah membaca cinta para kekasih yang meluap-luap yang melahirkan kepasrahan, penyerahan, kasih sayang, dan perenungan. Menjadi pencapaian yang indah ketika seluruh umat manusia mampu menjalankan dan mengemban amanah cinta dan mencintai, sayang dan menyayangi. Di sinilah, seperti yang pernah disampaikan penulisnya, penyair hanyalah pengabar atas kegelisahan hati sebagai wujud tanggap terhadap kejadian-kejadian yang ada disekitarnya. “Dan saya hanyalah pengabar!”

Palembang, 1 Juni 2011

* Citra Setiowidiah, Lahir di Palembang, 17 Februari 1989. Sekarang sedang menyelesaikan tugas akhir di Universitas PGRI Palembang, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

KITAB KOSONG—Risalah Penciptaan

Di malam yang sekarat. Ia datang menyerang hatiku yang terkapar di pusat sunyi. Entah, apa lagi yang ia katakan. Bucah Tua Gemblung—Ndara Mas Gantjul Gemblung Sundul Langit. Aku hanya terdiam melayang. Tubuhku tak punya berat, mengambang di udara. Aku mati dalam hidupku. Aku mencium harum melati.

Gantjul—Bocah Tua Gemblung Dalam KITAB KOSONG—Risalah Penciptaan “Thole” Handoko F Zainsam

|i|

“Aku ada dalam kehendak energi tanpa batas. Tak terbayangkanmu ruang tanpa luas dan waktu tanpa detik. Heninglah. Tergelar sudah keabadian nyata dan tunggal tanpa angka satu. Tak terpadankan bukan pula kosong. Esensi menyata.”

|ii|

Yassin—suwung. Tetap bergeming di arsy-nya. Astana semesta tereja energi tanpa batas—tak ada padanan. Berlahan bergerak tanpa jejak dan bayangan dalam hitungan tanpa angka. Kuasa atas segala kehendak; maka Kun jadi. Maka jadilah. Bukan tanpa proses—anasir terkecil menderak, bersenyawa, bergumul, bercengkrama dalam wilayah tak terperi. Cahaya Maha Cahaya menyelimuti kejadiannya. Suwung.

|iii|

Iqra. Kukirim spectrum cahaya dalam genangan energi kausalitas. Mematarantai sudah kekosongan menjadi keadaan. Being. Namun masih juga kosong. Kosong bahana semestaraya. Poros-poros perputaran terus berolah. Debu-debu memadat. Badai dahsyat mengukir syarat. Syair kejadian awal kehidupan. Hening meruyak nan agung. Semestaraya mijil. Ruh Agung. Ruh Suci. Aku ada menjadi saksi sang ADA.

|iv|

Asap membatu. Trilyunan batu-batu apung melayang bukanlah kesesuaian angka. Bergerak dalam hitungan putaran ketetapan dan kepastian. Putih hitam bergerak memecah warna. Prisma menerjemahkan rupa. Adalah hidup. “Iqra. Maka bacalah. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu!” Sementara aksara terus berkejaran dari lorong ke lorong. Menujah labirin pekat kian terpendam dalam. Spirit kehidupan.

|v|

Wal ‘asri. Ruh menyemesta. Pangkal keberadaan di dalam kuasa tahta anasir materi terkecil menjadi sekumpulan energi tanpa pindaian. Hitungan milyaran tahun cahaya telah menyorong lahirnya peradaban semesta meraya. Menghitung berapa derajat daya geser putaran jantung mendenyar. Hitungan milyaran tahun cahaya keabadian tetap dalam keabadian.

|vi| Alif lam mim—ruh. Ruang menyata. Waktu menggilas percakapan sunyi. Bergaung di semesta mendesing angin tanpa arahan. Badai-badai semesta lahir dan tenggelam. Tarik lingkar di detak nadi. Peradaban semesta menyusun risalah dalam rupa-rupa tafsir. Tegak dalam pusatnya semestaraya. Alif—kuasa mutlak energi.

|vii|

Dalam selimutnya, batu-batu lahir dan tenggelam. Tak pernah kurang atau lebih. Tetap dalam daya tampungnya. Tidakkah kau pahami, kematian adalah kelahiran bersinergi. “Pernahkan cermin mengkhianati wajahmu. Pasal apa kau tak pernah mau berkaca.”

|viii|

Semestaraya adalah dayaraya hidup dalam nafas-nafas ikhlas penghambaan. Untuk mentasbihkan tinggi kuasa Maha Kuasa. Maha Engkau! Tak ada cinta yang patut untuk dipadankan—untuk sekedar menyama sebutan namamu atas segara apa yang dicipta. Maha Tinggi Engkau.

|ix|

Makrifat bunda sunyi adalah hilangnya kuasa atas yang dicipta pada hakikat yang abadi. Dan apa yang tunggal adalah sah atasmu. Tak sedikitpun tak terketahui, hingga debu yang mengisi ruang-ruang semesta. Pun atas segala kehendak yang ada. Maka tahajudlah aku dalam sunyi atasmu.

Jakarta, 31 Desember 2010 ***

NB: Salam takzim “Thole”mu Ndara Mas Gantjul Gemblung Sundul Langit atas terbukanya “Lima Kitab Negeri Hening” untukku. (1) Kitab Kosong. (2) Kitab Cahaya. (3) Kitab Cinta. (4) Kitab Kematian. dan (5) Kitab Hening

Memaknai Kamu  

Seperti apa aku memaknai jiwa

seperti cermin retak bukan pada bingkainya

membelah wajah berkaca-kaca

Seperti apa aku memaknai cinta

seperti kenangan menebar kebencian

dan menyemai dendam

Seperti apa aku memaknai kamu

seperti aku yang menutup pintu

mematikan lampu

dan diam dalam keheningan.

Jakarta, 2007

Eksodus

—–Pengemis tua bersandar di tepian cakrawala yang rapuh

Memandang jingga dan mendendangkan lagu buat anak-anaknya. Si Bajang

Sebuah lagu indah tentang bidadari, kesatria, dan negeri kemakmuran

Sementara, Si Bajang asyik mencari angin

Di pinggiran jalan. Di ujung jembatan

Dan saat angin telah berembun. Ia pulang

—–Tak dijumpainya rupa. Tak ditemuinya cahaya

Ia diam dalam tafakur aku

Membelah malam, menangkap kunang-kunang

Ia terus berlari melanglang

Memanah bulan memboyongnya ke pelataran

—–Pengemis tua terdiam dan menangis

Tak dijumpainya Bajang dalam kamarnya

Tak ditemuainya Bajang dalam tidurnya

Ia tenggelam dan hilang

  

Jakarta, 2007

Kesaksian 

      

Di pemberhentian hitungan yang telah dia ulang berkali-kali

sampai habis seluruh jari

masih saja dia diam di samping batu nisan kekasihnya

yang mati lantaran ditusuk ulu hatinya dengan jarum

yang biasa dipakai untuk membuat rajutan

yang dipersembahkan untuk kekasihnya

        

Ciputat, 2007

Kota Sunyi: Tahajud Cinta Kunang-Kunang 

        

Gelap rubuh di tengah makam kota—pada malam yang ranum

Kunang-kunang menari berpesta pora pasca hujan sore tadi

Hening menyentak. Angin kaku dan terlelap

Melangkah mendaki senja yang telah buyar oleh lampu-lampu jalan

        

Di bawah keteduhan jembatan layang. Sunyi menggema

Menyerang wajah-wajah orang dipengasingan cinta

Yang tertatih menyeberangi jalan hidup

Membentur sampah dan gerobak-gerobak kardus

Jerit-jerit kereta menghantam kumandang adzan

membuka salam pada matahari dan bulan

dalam dongeng ksatria dan putrinya

        

Di Kota Sunyi, tahajud cinta berkumandang

Di kehidupan kunang-kunang dan mendung memandang mata

Hujan kembali rubuh di tepi peristirahatan yang mulai menua

Dan rabun dilanda serpihan cahaya

  

Jakarta, 2007

Cawan-Cawan Anggur 

      

Berapa kali aku meminumnya. Bahkan telah habis bercawan-cawan anggur. Namun, tak juga aku menemukanmu di tiap bilangannya. Aku terus meminumnya. Bahkan, semakin banyak gelas-gelas anggur yang aku minum, semakin pudar namamu dalam ingatanku. Aku hanyalah cawan-cawan anggur yang kosong dan isi. Isi dan kosong.

        

Aku hilang dari realitasku sendiri. Tertelan harum ratus yang terbakar di ruang kesunyian. Aku terhenyak. Aku melihat senyum manis menyapa kejora yang telah ranum. Aku tenggelam dalam nafas yang panas

Kenapa malam ini aku susah sekali merangkai huruf untuk mengeja namamu. Dalam kerinduanku pada senyummu yang lepas.

        

Dalam alfabet yang terus aku cari. Tak kutemukan huruf depan dari namamu. Hingga larutku yang semakin gila, aku tak juga menemukan sebuah huruf untuk menyebut namamu. Hanya huruf-uruf kosong yang aku temukan jejaknya. Namun, tak juga kutemukan jejakmu.

  

Jakarta, 2007

 

 Lanjutan Realitas Imajiner-1

Sebuah NovelREALITAS IMAGINER

[post power syndrome]

           

Banyak orang yang masih lalu lalang di jalan meskipun waktu telah menunjukkan pukul 23.00 di wilayah selatan Jakarta. Dari wajah-wajah mereka memang kelihatan lelah, namun canda tawa masih saja mengiringi perjalanan beberapa orang yang melintas. Ada pula sepasang muda mudi yang bergandengan tangan sembari berbisik-bisik mesra. Lampu jalan yang temaram sepertinya menambah suasana menjadi romantis.

            Memang begitulah hidup. Banyak warna yang bisa dipadukan dan mengaburkan warna aslinya. Biru bagiku bisa jadi hijau bagimu. Merah bagimu bisa menjadi orange bagiku. Relativitas ini yang membuat hidup menjadi indah. Aku tak memiliki warna mutlak, namun aku hanya memiliki warna dominan. Karena warna mutlak bagiku akan kelihatan saat aku telah berhenti dilingkaran waktu dan sejarah hidupku pun telah usai.

            Sudah hampir dua jam aku duduk di Tee Box Café. Suatu hal yang sangat tak berguna bagiku. Sesuatu yang sia-sia saja. Untung masih ada laptop yang mampu menghibur dan mengisi waktu-waktuku. Dari jendela ke jendela aku terus memasuki wilayah-wilayah maya. Seperti layaknya seorang pencuri. Kenapa dunia ini diciptakan tanpa ada kesantunan. Ada pintu yang bisa dimasuki, tapi mengapa harus melewati jendela?

            Jaring-jaring maya terus mematarantai, tak menyiratkan adanya terminal perberhentian. Terus saja menyambung menjadi rangkaian setan.

 Kuldesak…

Terus saja menawarkan pesan yang menggoda

untuk dijemput dan dibawa ke kenyataan imajiner. Sebuah Realitas Imaginer.

Memaksaku untuk terus masuk lebih dalam.

Hingga aku hilang dalam spionasenya. 

Tak pernah bisa ditemui kenyataannya.

Selaput tipis membran yang mampu menampilkan visual yang cukup menggoda.

Menjebak pada dunia jaring laba-laba.

Gayung bersambut menuju jebakan waktu

Dan bayangan wujul dari kata yang terukir indah  

         Aku telah masuk ke dalam lingkaran yang terkooptasi dengan regulasi yang diciptakan oleh orang-orang tertentu untuk mengejar kepentingan-kepentingan tertentu pula. Aku menjadi sosok yang tak memiliki kebebasan dalam memilih dan menyampaikan sesuatu meskipun dibingkai oleh kata-kata bahwa aku memiliki kebebasan memilih dan menyampaikan sesuatu. Aku terjebak pada retorika konyol yang membuatku pengap dan gerah. Aku berada dalam masa pengawasan dengan berlebel ‘Kartu Tanda Penduduk’ atau pula ‘Akte Kelahiran’.

Aku berada dalam sel tahanan luar. Aku memang tidak menempati hotel prodeo seperti pencuri ayam atau koruptor yang jumlahnya sudah tidak ketulungan di negeri ini. Tidak senyinyir itu keberadaanku. Namun, aku memiliki persamaan dengannya. Aku berada di penjara yang lebih besar, yakni menjadi rakyat yang ada disebuah wilayah hukum tertentu dengan kekuasaan tertentu yang masih gamang dalam memilih apa yang disebut demokrasi.

“Mas!” sapa seseorang. Aku kaget mendengar sapaan itu. Tiba-tiba saja seorang perempuan, yang akhirnya aku sadar kalau dia seorang pelayan café, menghampiriku. “Tambah minumannya?” lanjutnya.

Seulas senyum terbersit ramah menyapaku. Sedikit gerakan manis dari kerling matanya dan pena yang menyentuh ujung bibirnya membuat aku sedikit zhiing.Ya harus bagaimana lagi? Memang itu pekerjaannya. Sedikit manja dan mempengaruhi. Ia bergerak berdasarkan senyuman dan sapan-sapaan ramah. Harapannya, sang pelanggan akan terpesona dan nantinya akan kembali menghabiskan sisa-sisa waktunya untuk duduk dan menikmati menu yang dihidangkan. Termasuk senyum dan seksinya sang pelayan. “Ada tambahan?”

“E.., ya. Boleh. Juice Alpokat!”

“Ok. Memangnya yang ditunggu belum datang?”

“Ya begitulah,” jawabku singkat. “Aku hanya nunggu seseorang yang aku sendiri tidak tahu apakah dia akan datang atau tidak.”

Perempuan itu terbengong mendengar penjelasanku. Ia mengernyitkan dahi. Sepertinya ia bingung menerjemahkan makna kata-kataku. Sementara, ia sekarang enggan untuk kembali mengajukan pertanyaan. Sesaat ia diam. Aku hanya tersenyum melihat ia seperti itu. Pandanganku terbentur pada sebuah nametag yang terpasang di dada kirinya. Bunga. Nama yang indah. Yanti, Susantiana. Susana. Terakhir menjadi Bunga. Nama yang tak asing bagiku. Nama yang telah menjebakku dalam imaji yang tak terbatas. Susah untuk dipisahkan antara realitas dan imajinasi.

Aku sendiri juga tak habis pikir. Aku mencari sesuatu yang aku sendiri tak mengerti. Aku semakin kehilangan dunia nyataku. Aku coba melihat jam tangan dan meraba laptop yang ada di depanku.

Malam ini aku harus merampungkan skenario teater yang aku beri judul ‘Dua Dunia.’ Panggung seni drama yang telah menjadi media untuk melampiaskan ide dan pikiranku. Meskipun kadang susah dimengerti. Aku sendiri pun juga tak mau ambil pusing terhadap komentar-komentar itu. Aku juga tak mau terjebak oleh komentar-komentar yang kadang membuatku tak nyaman. Bukannya aku tak mau tahu, tapi kadang kala komentar itu tak memiliki dasar yang cukup kuat yang bisa dijadikan sebagai titik tolak loncatan pemikiran. Bahkan bisa dibilang cenderung memvonis tanpa dasar yang kuat. Seperti seorang komentator sepakbola mengkritik sebuah film dari kacamana seorang sineas. Memberikan komentar namun tak menguasai apa yang menjadi topik bahasan.

“Perselingkuhan itu terjadi lantaran keduanya saling sepakat! Artinya, sepakat untuk menikmati buah terlarang.”

“Itu alasan dasar Arok dan Dedes maksudmu?”

“Aku pikir begitu. Dengan asumsi mengatasnamakan cinta untuk meraih kekuasaan dan menjadikannya tumbal serta lobi-lobi politik.”

“Kamu juga harus sadar. Pertentangan dua aliran kepercayaan pada masa itu sangatlah kuat. Dominasi dan hegemoni penguasa sangat terasa. Bahkan dalam lini-lini keseharian.”

“Itulah yang membuat aku sementara diam dan belum melanjutkannya. Aku masih mencari kuatnya pengaruh penguasan dan resistensinya. Aku yakin semua tidak terjadi begitu cepat,” jawabku. Aku kembali berfikir masalah ini. “Aku yakin, waktu berjalannya relatif lama. Ya, ini menyangku hal yang sifatnya sangat personal. Keyakinan. Jadi gak bisa grusa-grusu semaunya sendiri.”

Sekiranya itu yang menjadi polemik dalam skenario yang aku rampungkan sekarang. Perselingkuhan Arok dan Dedes terjadi lantaran keinganan para pemegang utama kekuatan politik dan kekuasaan agar mendapatkan dukungan secara utuh dan menyeluruh. Hal ini berkaitan erat dengan legitimasi kekuasaan.

Keberadaan Dedes menjadi sangat fital untuk bisa melanjutkan herarki kepemimpinan yang akan terputus akibat pengambilalihan kekuasaan melalui jalur pemberontakan. Untuk bisa melanjutkan aliran darah biru, keterkaitan erat dari keluarga kusuma harus tetap mengalir dalam herarki keluarga. Tak ayal, keduanya sepakat untuk membangun taman terlarang di puri istana. Dedes sepakat untuk mengkhianati Tunggul Ametung, suaminya. Meskipun telah menjadi rahasia umum kalau berurusan dengan kekuasaan dan politik pastilah akan terjadi pemujaan liang kesuburan yang memerah. Darah memerah. Entah itu sebagai perwujudan atau tumbal politik serta pembangunan legitimasi sosial.

Itu rahasia pemimpin untuk mampu mengimbangi kuatnya detak laju otak. Wajar akhirnya jika otak pun meminta jantung untuk terus memompa dan mengalirkan daran ke otak. Mobil yang meminta oli dan bensin untuk terus mengalir. Jika tidak, mobil akan berhenti dan diam di garasi. Menjadi hiasan mahal untuk sebuah rumah.

Arok menawarkan perasaan cinta memang berdasarkan silaunya mata dan keterpesonaannya melihat paha Dedes. Tidak sekedar wajah, kerlin mata, dan ranumnya bibir basah yang identik dengan kecantikan wajah, namun payudara dan paha yang identik dengan seksualitas. Rumus sederhana untuk menyiratkan besarnya libido seseorang terhadap lawan jenisnya.

Sang betina akan mengeluarkan sesuatu yang nantinya akan mampu memikat sang jantan. Entah itu berupa bau yang keluar dari tubuh atau sebuah tarian yang mampu menyihir mata lawan jenis. Tarian yang mengekploitasi organ-organ tubuh yang akan membangkitkan gairah birahi.

“Apa yang dia lakukan saat kau tidur bersamanya?”

“Memelintir putingku. Melumatnya hingga perih.”

“Kau kejang?”

“Ada sesuatu yang bisa membuatku melayang dan mengerdipkan mata.”

“Dan, kau memekik?”

“Tidak. Aku mencengkeramnya.”

“Kau mencengkeramnya?”

“Ya. Aku mencakar punggungnya.”

“Seperti yang kamu lakukan padaku semalam?”

“Ya!”

“Kau menyiksaku, Dedes?”

“Aku yang kau siksa. Ada sesuatu yang membuatku menjerit lirih.”

“Ekstase tertinggi?”

“Lebih tinggi dari langit. Bahkan lebih tinggi dari khayangan tepat para dewa.”

Mereka saling menatap. Waktu seakan berhenti berdetak. Loncengnya pun enggan untuk bernada. Tangan bergerak menikmati kehalusan rasa. Memuja tingginya Mahameru. Mendaki bukit yang penuh harum cendana. Memetik bunga dari tangkainya.

Jernih mata turun ke kilau dua gundukan bukit gersang yang terhapar suci pasir yang teraliri air. Terus turun memeluk tubuh gitar dan terus memainkan dawai-dawainya dengan jari-jari yang terus menari. Menjejak dan berdansa. Bergerak menuruni panggung persembahan pusat altar pemujaan. Tenggelam dalam jilatan birahi yang tersandung benang-benang hitam kepastian. Untuk merenangi samudra rasa dan bermain di becek lumpur sawah yang siap ditebar benik padi.

“Kenapa kau begitu cantik?”

“Arok…”

“Dedes…”

“Kau akan kembali menyiksaku?” 

***

to be continue

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.